Perilaku Merokok Pada Remaja


Remaja merupakan aset penting negara dan merupakan bagian penting untuk memajukan negara di masa depan. Untuk memajukan negara, negara itu harus mempersiapkan para generasi muda yang kompeten baik secara fisik dan mental. Dalam hal perkembangan fisik, pemerintah harus memberi perhatian yang lebih, mengingat banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik remaja, salah satunya adalah bahaya merokok.


Salah satu karakteristik umum dari perkembangan remaja yang paling berpengaruh pada kehidupan remaja itu sendiri adalah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (Ali.M, 2010). Oleh karena rasa keingin tahuannya yang tinggi itulah para remaja memiliki keinginan, fantasi, angan angan yang membuncah dalam berbagai hal yang belum pernah dicobanya, bepertualang, menjelajah berbagai hal yang berbeda. Selain itu, karena didorong oleh rasa keinginan menjadi seperti orang dewasa ataupun ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang dewasa serta meniru hal hal yang biasa dilakukan orang dewasa. 


Menurut dimensi psikologi masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-ratamemerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood senang luar biasa´ ke sedih luar biasa´, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing ) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. 


Masa remaja adalah masa dimana individu berada pada ambang dewasa sehingga remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa seperti merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Para remaja menganggap bahwa perilaku tersebut akan memberikan citra seperti yang mereka inginkan yaitu dianggap sebagai individu yang telah dewasa.


Erik H. Erikson (dalam Komalasari & Helmi, 2000) menyatakan bahwa keputusan seorang remaja untuk merokok berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya, yaitu masa mencari identitas diri seperti usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat. Dalam masa remaja ini, sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial. Tugas utama seorang remaja adalah mengintegrasikan berbagai macam identifikasi yang mereka bawa dari masa kanak-kanak menuju identitas yang lebih utuh (Miller, 1993). Usaha-usaha untuk menemukan identitas diri tersebut tidak semuanya berjalan sesuai harapan, oleh karenanya beberapa remaja melakukan perilaku merokok sebagai cara kompensatoris. 


Tak heran jika kita sering melihat para remaja, baik yang duduk di bangku SMA atau malah masih berseragam SMP. Kita dapat dengan mudah menemukan Remaja SMA atau SMP yang sedang merokok di tempat tempat umum seperti tempat perbelanjaan, halte bus, tepian jalan, dll. Mereka merokok dengan bebasnya dan tanpa rasa bersalah walaupun ada juga sebagian remaja yang merokok secara sembunyi sembunyi. Mereka seakan bangga dengan perilaku merokoknya dan merasa keren jika mereka merokok.


Smet (1994) mengatakan, bahwa permulaan seseorang untuk merokok terjadi akibat lingkungan sosial. Meniru Perilaku orang lain (modelling) menjadi salah satu determinan dalam suatu permulaan perilaku merokok (Sarafino, 1990). Sejalan dengan perilaku diatas, Lewin (Komalasari & Helmi, 2000) menyatakan bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu, artinya perilaku merokok selain di sebabkan oleh dorongan dari diri sendiri, juga dari pengaruh lingkungan (seperti melihat orang tua yang merokok ataupun teman sebaya, juga pengaruh iklan).


Referensi:

Atom (2006). Perilaku Merokok pada Remaja. kumpulblogger.com (diakses tanggal 3 Maret 2012)

Gatra (2008), Melepas Jerat Racun Rokok Anak Indonesia. Arsip majalah gatra (online), (http://arsip.gatra.com/artikel.php?id=115410, diakses pada 1 Maret 2012).

Komasari dan Helmi, F. (2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok Pada Remaja. Jurnal Psikologi

Kemala N, Indri. (2007). Perilaku Merokok pada Remaja. Semarang: Digital USU.

Mu’tadin, Zainul. 2002. Remaja dan Rokok, (online), (http://herbalstoprokok.wordpress.com/2009/02/04/remaja-dan-rokok, diakses 28 Februari 2012).

Nasution, KI (2007). Perilaku Merokok Pada Remaja. Skripsi. Medan : Universitas Sumatra Utara Medan

Smet, B (1994). Psikologi Kesehatan. Semarang: PT gramedia.

Widianti E. 2007. Remaja dan Permaslahannya : Bahaya Merokok, PenyimpanganSeks pada Remaja, dan Bahaya Penyalahgunaan Minuman Keras/Narkoba.Universitas Padjajaran. Jatinangor