Wajah

Membasuh kembali wajahku dan menatapnya lekat lekat di kaca, bajingan tengik terpampang disana, seringai penuh kecurangan, bengis yang licik, wajah sesosok pengkhianat, menyesali perbuatannya sesekali tapi di ulang lagi,
Kembali ku nyalakan kran air di wastafel itu, ku lempar genggaman air di kedua tangan ke wajahku, masih wajah yang sama, wajah yang entah menyimpan apa, tak tahu mencari apa, sulit dimengerti maunya bagaimana, wajah yang tak pernah puas dengan semua perbuatan durjananya, selalu menginginkan yang bukan miliknya
Ku buka telapak tanganku, menerima beberapa tetes pembersih muka, ku usap di wajah si jagoan kecil yang suka bikin ulah, mulutnya kerap kali meneriakan kata maki, si jagoan kecil yang pengecut,tak pernah menerima kalah walau jelas salah, semua pola nampak di sebuah wajah, masih berkaca…wajah sial dangkalan itu tertawa..
Wajah itu mengkerutkan dahinya, ingat ulah bapaknya, melaksanakan ibadah lebih dari seharusnya, namun tak pernah absent jua membuat ibu sakit hatinya, ia bukan hanya mendua, tapi tiga, empat atau lima, alih alih itu sunah…menggunakan atribut ibadah dan melaksanakannya nyaris sempurna, tapi berkhianat…tak mampu sembuhkan sakitnya
Benci polygami jadinya, dukung polyandri biar orang orang seperti bapaknya tau rasa sakitnya…memaki serupa “mereka” berkotbah…apalah bedanya…suaranya nyaris sama…berteriak tanpa mampu mempertanggung jawabkan teriakannya, yang berteriak berkotbah, mampukah mereka mempertanggung jawabkan kotbahnya ?, melaksanakan semua teriakan ajakan beribadahnya…menyakiti bukanlah ibadah, perlukah teriakan makianku mengingatkannya…?
Wajah itu masih berkaca, pasrah…kini ia mirip bapaknya…membuat sakit hati pasangannya, menari kesana kemari tak merasa dosa, menutupi diri dengan atribut “ibadah” versinya sendiri, bekerja…menjadi orang yang berguna…bukankah itu juga ibadah ?
Wajah itu merasa sesak di dadanya…mungkin pasangannya merasa sakit serupa derita ibunya, karena memilih berpasang dengannya yang serupa bapaknya…menggemari wajah wajah muda berseri menarik hati, satu sehari, silih berganti, begitu sampai nanti…sampai pasangannya sakit hati atau mungkin mati…
Wajah itu menangis…air matanya bergulir menghangatkan pipi, hidung, dan bibirnya, berbaur dengan air liurnya, yang selalu ingin meludahi bapaknya, orang orang serupa bapaknya dan bahkan dirinya sendiri pada akhirnya, ia menyesali dan ingin berhenti sesekali, ingin menjadi ibunya, yang walau telah memilih berpasangan dengan penggemar polygami demi aman sendiri dan reality, tapi ia tetap menanti sampai kenyataan mampu berkompromi, sampai ia tersadar itu hanya bisa jadi mimpi, tak pernah ada konsekwensi yang bisa dipahami, hanya menikmati derita dan sakit hati setiap hari…
Wajah itu kini melempar pantulannya sendiri, memecah cermin di depannya, benci melihat wajah lain disana, wajah bapaknya…
Wajah itu berpaling dari sana, bayangannya terbahak bak setan biadab, berpaling ke wajah lain, wajah berwarna lebih gelap dari wajahnya, wajah berupa lebih tulus dari wajahnya, wajah lebih sabar dengan tingkah tingkahnya, wajah menanti sampai wajah yang menatapnya berhenti menjadi bapaknya, wajah yang tetap berharap suatu saat ia tak memindahkan derita ibunya padanya, wajah yang seharusnya dapat tercinta selamanya, karena dia berhak dicintai setulus hati…